Sering sekali kita menemukan konten tentang nervous system untuk pengembangan diri. Saya pun akhirnya belajar regulasi sistem saraf (nervous system) untuk membuat diri lebih tenang dan bisa mengatur respons ketika ada hal-hal yang memicu fobia leadership. Mengatur nervous system ternyata bisa juga untuk mengatasi masalah personal branding.
Tentu saja, di podcast on blog kali ini, kita tidak akan belajar soal mengatur sistem saraf secara umum. Konten ini dibuat karena ada penulis yang begitu tidak percaya diri tiap kali harus membuat konten branding di medsos.
Kita tidak bisa menghindari orang lain mau itu di dunia maya atau nyata. Namun, kita juga tidak bisa menyamakan kemampuan seseorang dalam bersosialisasi sama rata. Nah, setelah membaca perihal nervous system, akhirnya saya jadi berpikir, mungkin ini ada kaitannya dengan trigger di masa lalu? Jadi, meskipun membuat konten di medsos tanpa terlihat wajah pun bisa terasa menakutkan.
3 Hal "Salah Kaprah" yang Bikin Branding Terasa Mengerikan
Sebelum kita melangkah lebih jauh, kita harus meluruskan dulu beberapa "hantu" atau mitos yang sering menghantui pikiran penulis ketika hendak membuat konten personal branding.
1. Terlalu Fokus pada Konten Viral yang "Gak Nyambung"
Ketika ada yang sedang membuat konten joget, langsung ingin ikutan bikin. Isinya tips menulis, tapi penyajian videonya adalah seorang penulis yang goyang dan itu pun tidak hanya satu video. Ini, sih terlihat kurang nyambung, ya.
Viral belum tentu sesuai dengan pribadi. Apalagi kalau kamu memang bukan tipe kreator yang suka dengan tren. Bayangkan betapa menakutkannya kalau berpikir harus membuat konten personal branding sesuai gaya yang viral dan itu bukan 'kamu banget'. Yang ada, pasti kamu akan lebih lama menunda.
2. Terjebak dalam Ketakutan Oversharing
Ada anggapan bahwa branding berarti harus membongkar seluruh rahasia hidup atau memposting apa pun yang dimakan dari pagi sampai malam. Ini salah besar. Branding adalah tentang kurasi, bukan eksploitasi. Kamu tetap bisa menjaga privasi sambil tetap membagikan pemikiran-pemikiran yang bermanfaat bagi pembaca.
Sekali lagi yang harus kamu ingat, personal branding hanya untuk mengizinkan sesuatu yang nyata dari hidupmu dan ini berkaitan dengan aktivitas sebagai penulis. Kegagalan dan keberhasilan serta proses belajar menulis inilah yang bisa kamu bagikan. Oversharing itu kalau kamu berbagi masalahmu dengan keluarga sampai julid.
3. Tuntutan untuk Terlihat Sempurna
Melihat akun penulis lain yang estetik dengan foto buku yang tertata rapi seringkali bikin kita minder. Kamu pun merasa horor karena menganggap branding butuh kamera mahal atau keahlian desain grafis tingkat dewa. Padahal, pembaca lebih menghargai keaslian (authenticity) daripada sekadar polesan visual yang kaku. (Baca Juga: Mengapa Banyak yang Gagal dalam Menulis?)
Ketakutan dan keraguan itu mengendap tanpa sadar tanpa tahu kalau akar masalahnya jauh lebih mendalam hinga terekam di sistem sarafmu. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Yuk, dengarkan podcast hanya di halaman ini. (Dengarkan Juga: Cara Kerja Otak Penulis dan Pembagiannya)
.png)
0 Comments