Mengapa Banyak yang Gagal dalam Dunia Menulis?





Menulis adalah seni yang membutuhkan dedikasi, kreativitas, dan ketekunan. Namun, di balik semua itu, banyak penulis yang mengalami gagal dalam dunia menulis.

Apa sebenarnya yang menyebabkan seorang penulis tidak mencapai kesuksesan yang diharapkan? Berikut ini adalah beberapa faktor utama yang bisa menjadi sumber kegagalan bagi seorang penulis.

 

Kurangnya Disiplin Menulis

Menulis secara konsisten adalah kunci utama untuk meningkatkan keterampilan. Banyak penulis yang gagal karena mereka tidak memiliki jadwal menulis yang tetap.

Ketika kamu hanya menulis saat merasa terinspirasi, kamu akan melewatkan banyak waktu produktif yang seharusnya digunakan untuk mengasah keterampilanmu.

Disiplin ini tidak hanya soal menulis setiap hari, tetapi juga membangun kebiasaan untuk terus belajar dan berkembang.

Bagaimana kalau sudah berusaha membuat jadwal menulis, tetapi masih saja gagal memenuhinya? Coba cari tahu masalahmu. Disiplin menulis yang rendah tidak hanya sekadar karena malas, tetapi juga bisa jadi karena faktor lebih dalam contohnya ekspektasi terlalu tinggi.

Kamu yang bekerja kantoran lalu menulis novel, tentu waktu menulisnya lebih sedikit dibandingkan yang menulis penuh waktu. Target menulis novel 100 halaman dalam satu bulan tentu bikin capek. Ujung-ujungnya, kamu malas untuk menulis karena merasa mustahil.

 

Takut pada Kritik

“Kak Reffi, saya sudah menulis setiap hari sebanyak 1000 kata, tapi saya merasa kalau kemampuan menulis saya belum sebagus penulis lainnya.”

Suatu hari ada yang mengirim pesan seperti ini di Instagram Founder Wordholic Class. Setelah itu, Kak Reff menanyakan di mana dia mengunggah tulisan. Jawabannya menarik.

 

“Oh, saya baru menulis di laptop, belum saya unggah di blog atau medsos. Takut tulisannya jelek terus dikritik.”

Kalau belum apa-apa malah takut kritik, lantas bagaimana bisa tahu kalau kemampuan menulisnya sudah bagus atau belum kalau cuma dibaca sendiri? Aneh, kan?

Kritik adalah bagian tak terpisahkan dari dunia menulis.

Banyak penulis yang terlalu sensitif terhadap kritik, baik dari pembaca maupun editor, sehingga mereka menjadi ragu pada kemampuan diri sendiri.

Alih-alih menganggap kritik sebagai alat untuk memperbaiki kualitas tulisan, mereka malah merasa terpuruk dan berhenti menulis. Padahal, kritik yang membangun bisa menjadi pendorong untuk mencapai kesuksesan.

Sebagai penulis, Kak Reffi pernah merombak 80% novel karena dikritik editor. Dapat rating novel yang tidak terlalu tinggi juga pernah. Apakah  dia berhenti menerbitkan buku? Tentu tidak. Kalau berhenti, tentu dia tidak akan pernah tahu rasanya menjadi penulis best seller di Gramedia Digital di buku terbaru saya yang berjudul ‘22 Ways toSelf-Love’ (terbit di Penerbit BIP).

 

Perfeksionisme Berlebihan

Perfeksionisme bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, kamu ingin memberikan yang terbaik, tetapi di sisi lain, perfeksionisme bisa membuatmu terlalu banyak berpikir sehingga tidak pernah merasa puas dengan hasil karya. (Baca Juga: Cara Kerja Penulis dan Pembagian Berpikirnya)

Ini menyebabkan banyak penulis terjebak dalam siklus revisi tanpa akhir yang pada akhirnya membuat mereka berhenti karena merasa tidak pernah cukup baik.

Penulis itu tumbuh dengan karya yang dipublikasikan, mendapat kritik, lalu diperbaiki. Kalah dalam kompetisi menulis juga membuat saya belajar dari para pemenang dan sesama penulis.

 Rivalmu bisa menjadi mentormu. Baca apa yang mereka baca. Ikuti metode belajar mereka sampai kamu menemukan caramu sendiri dan cocok untuk pengembangan tulisanmu. Yang penting jangan menjadi tukang plagiat.

 

Kurangnya Pengetahuan tentang Pembaca

Sebagus apapun tulisanmu, jika kamu tidak memahami siapa target pembacamu, maka hasilnya tidak akan maksimal. Banyak penulis yang gagal karena mereka tidak mengerti selera pasar atau tren yang sedang berkembang.

 

Menulis adalah seni, tetapi juga bisnis. Kamu harus memahami pasar untuk bisa menulis karya yang relevan dan menarik perhatian pembaca.

 

Kurangnya Jaringan dan Dukungan

Menulis sering kali dianggap sebagai kegiatan yang soliter, tetapi kenyataannya, memiliki jaringan dan dukungan dari komunitas penulis lain sangatlah penting.

Banyak penulis yang gagal karena mereka tidak membangun hubungan dengan penulis lain, editor, atau pembaca. Jaringan ini bisa menjadi sumber motivasi, kritik yang membangun, dan juga peluang untuk mempublikasikan karya.

Oleh sebab itu, ikutilah akun medsos penerbit, penulis senior, pemula, dan komunitas menulis. Jika mengikuti kelas menulis, kamu pun bisa membagikan konten terkait yang dibahas di dalam grup. 

Visibilitas yang baik di medsos dan hubungan yang luas dengan sesama penulis bisa memperbesar peluang kita untuk menemukan job atau informasi seperti kelas menulis dan kompetisi. Kamu pun jadi tergerak untuk terus berkarya.

 

Tidak Menyelesaikan Apa yang Dimulai

Salah satu masalah terbesar penulis adalah tidak pernah menyelesaikan proyek yang mereka mulai. Ide-ide baru sering datang dan mengalihkan perhatian dari proyek yang sedang berjalan.

Akibatnya, banyak penulis yang memiliki tumpukan draf setengah jadi tanpa satu pun karya yang selesai. Kebiasaan ini tentu saja akan menghambat kemajuanmu sebagai penulis.

Kalau ada ide baru, catat dulu atau rekam. Kamu bisamemilih untuk ikut lomba menulis jika ada buku yang ingin kamu selesaikan. Untuk artikel, kamu bisa menulis menggunakan alarm sehingga ada tenaga untuk segera menyelesaikan.

Gagal dalam dunia menulis itu tidak seharusnya menjadi batu sandunganmu untuk berhenti berkarya. Kenali jenis hambatanmu dan mulailah mencari solusinya.

 

0 Comments