Reffi Dhinar: Mentor Kelas Intuitive Branding


Bisakah mendapat uang dari menulis? Apakah nanti kita bisa mendapat gaji yang sepadan jika hanya menjadi freelance writer? Pertanyaan ini mulai mengemuka dalam kepala saya ketika sedang mendapatkan banyak kesulitan pada pekerjaan kantor yang pertama kali saya dapatkan. 


Padahal sesungguhnya, saya sangat menyukai bidang pekerjaan tersebut. Saya bisa berkomunikasi dengan banyak orang dan juga berpikir kreatif untuk mencari solusi dalam setiap pekerjaan. Kenapa saya harus berhenti?

Sampai akhirnya saya menemukan formula yang tepat agar bisa menjadikan aktivitas menulis sebagai side-hustle menjanjikan. Mungkin suatu hari nanti saya bisa menjadikannya bisnis utama selain kursus bahasa Jepang? I don’t know

 

Ketika Mengalami Masalah

Pekerjaan saya di kantor kedua ini juga sangat menyenangkan. Saya bertemu rekan kerja suportif yang sudah seperti keluarga sendiri.

Sebelum saya menahbiskan diri sebagai Wordholic hingga menjadi Wordpreneur, saya juga sempat menjadi penulis serabutan. Akhirnya, saya mengalami tiga hal ini:

  •  Burnout
  • Cek ke klinik hampir tiap minggu untuk periksa lambung atau sinusitis
  • Cedera pada lengan kiri selama dua bulan karena kram ketika mengetik
  • Bingung menentukan branding karena passion yang beragam

Uang dari menulis yang belum seberapa habis dipakai untuk fisioterapi dan juga produktivitas di kantor pun terganggu karena tangan yang cedera. Menggelikan, bukan? Saya sempat ingin berhenti menulis, tetapi kepala ini rasanya ingin pecah kalau tidak disusun menjadi buku atau tulisan dalam blog.

Setelah mengetahui cara terbaik untuk mengatur waktu, belajar menulis dengan ritme yang sehat, mengatur jumlah job menulis yang saya terima, saya bisa menjadi seorang penulis yang lebih sehat secara mental dan batin serta membuat strategi personal branding dengan intuisi. 


Mengapa Kamu Perlu Belajar Intuitive Branding?

Sebagai seorang penulis sekaligus Certified CBT Life Coach, penulis, dan penerjemah, mengarahkan personal branding agar tajam dan tidak kehilangan diri sendiri di tengah era-nya FOMO adalah hal yang sangat penting. 

Personal branding tidak harus capek mengejar konten viral setiap hari.

Personal branding juga seharusnya menjadi perpanjangan identitas diri yang kita izinkan untuk dilihat dunia.

Branding kita tumbuh dari refleksi, pengalaman, dan nilai-nilai yang kita pegang teguh, bukan dari tren sementara di media sosial. Dengan Intuitive Branding, kamu pun tidak lagi hanya bergantung pada algoritma medsos dan bisa bersinar di dunia nyata dengan identitas yang kamu pilih.


Ketika Tidak Paham Strategi

Kalau kamu memiliki banyak passion dan juga bingung mau mulai dari mana, maka mencari niche atau target audiens saja itu belum sepenuhnya tepat. 

Kamu harus memahami dulu apa yang benar-benar kamu inginkan. Jika sudah tahu, barulah kamu bisa mengasah segalanya menuju persona yang ingin kamu ciptakan.

Ketika kamu tidak paham strateginya, kamu akan terombang-ambing dengan tren yang belum tentu kamu sukai, burnout, dan kehilangan ‘jiwa’.




Hasil Nyata Intuitive Branding

Kini, saya percaya bahwa menulis bukan sekadar cara mencari uang, melainkan sarana untuk tumbuh, berbagi makna, dan memperkuat eksistensi diri di dunia digital. Dan ya, uang akan mengikuti ketika identitas dan pesanmu jelas.

Persona utama saya tentu tetap seorang penulis dan saya terus berkarya hingga menghasilkan 27 buku solo melalui kompetisi atau seleksi. Namun, saya juga mendapatkan klien-klien privat tanpa harus membuat iklan atau membuat konten viral sebagai Life Coach dan Writing Coach. Lihat juga komentar klien-klien saya yang merasakan manfaatnya.





Ingin mengetahui seperti apa materi soal Intuitive Branding? Kamu bisa intip di playlist Youtube di sini. Kamu juga perlu mampir untuk membaca ebook gratis dan gabung grup telegramnya di sini.

0 Comments