Birgitta Ajeng: Mentor Kelas Boundaries

Kenapa kita rela menghabiskan banyak waktu hanya untuk memikirkan kalimat nyinyir orang lain? Kenapa kita kesulitan bilang ‘tidak’ saat kondisi pikiran, mental, dan badan lagi kewalahan, ujung-ujungnya jadi memaksakan diri sampai burn out dan sakit?


Saya yakin sebagian dari kita pernah atau sedang berada di posisi tersebut. Kita selalu ingin menyenangkan orang lain, sampai lupa mendengarkan diri sendiri. Bukankah ketika kita sudah bisa memahami kebutuhan diri sendiri, baru kemudian kita bisa membantu orang lain?

Benar saja. Setelah menemukan makna dan langsung menerapkan batasan-batasan (boundaries), saya bertumbuh menjadi lebih produktif dan tidak mudah terombang-ambing oleh ucapan orang lain. Siapa sangka, banyak pintu kesempatan yang juga ikut terbuka dalam hidup saya.


Fase Melupakan Diri Sendiri

Saya pernah menyia-nyiakan ribuan detik dalam hidup, gara-gara memberikan atensi ke orang-orang yang menumbangkan kebahagiaan. Saya melupakan diri sendiri, apa yang penting dan menjadi prioritas dalam hidup. Karena belum paham mengenai pentingnya batasan, saya mengalami kelelahan, tidak produktif, dan gampang terpengaruh omongan negatif orang lain.


Hidup dikelilingi kata-kata sumbang, rasanya tidak tentram. Saya pun tergerak mencari kelegaan dengan membaca buku-buku pengembangan diri populer, seperti When to Walk Away: Menemukan Kebebasan dari Toxic People & Toxic Relationship karya Gary Thomas, Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi & Fumitake Koga, Boundary Boss: Berani Tentukan Batasan karya Terri Cole, dan masih banyak lagi.

Satu kesimpulan dari proses belajar lewat buku-buku tersebut: berani tentukan batasan terhadap berbagai racun bagi perkembangan diri. Racun yang saya maksud di sini adalah lingkungan atau pertemanan yang tidak suportif, kebiasaan lama yang sering menunda-nunda, dan konsep diri yang rendah.

Setting Boundaries Perlu Dilatih

Menjadi orang yang lihai dalam menerapkan batasan tidak bisa dibentuk dalam semalam. Kamu perlu melatih diri, karena ini melibatkan keterampilan dalam berkomunikasi, bernegosiasi, dan yang paling penting adalah kemampuan mencintai diri sendiri terlebih dahulu.

Orang-orang yang sering menomorduakan kebutuhan diri sendiri adalah yang belum bisa mencintai diri sendiri. Karena itu, tipe orang seperti ini sering merasa bersalah saat ingin bilang ‘tidak’ dalam membangun batasan.

Namun, rasa bersalah ini adalah proses awal yang harus kita lewati bilang ingin piawai dalam membuat batasan. Ingat, menolak bukan berarti egois. Itu berarti kamu tahu apa yang kamu butuhkan untuk tetap berfungsi dengan baik. Menerapkan batasan adalah bentuk kasih sayang pada diri sendiri dan pada hubunganmu dengan orang lain.




Hidup yang Lebih Fokus


Setiap manusia bisa bertumbuh, begitu pula saya yang bisa lebih fokus pada tujuan hidup setelah berani menerapkan batasan. Setelah memahami apa yang ingin saya capai sesuai kata hati, pintu-pintu kesempatan turut terbuka satu per satu.


Saya membuka jasa Oracle Reading yang membantu puluhan klien dalam memahami potensi dalam dirinya. Saya mengajak mereka mengenali diri sendiri untuk menjawab pertanyaan besar dalam hidup mereka: “Apa value saya?” atau “Apa tujuan hidup saya?” atau “Apakah langkah saya sudah tepat dalam mengubah karier sesuai panggilan hati?


Selain itu, saya juga kuliah S1 lagi, mengambil program studi berbeda dari sebelumnya: psikologi. Dengan landasan ilmu yang kuat, saya memiliki fondasi yang kian kokoh dalam membantu klien-klien yang datang.


Penasaran seperti apa materi soal menerapkan batasan-batasan (setting boundaries)? Kamu bisa intip di playlist Youtube di sini. Kamu juga perlu mampir untuk membaca ebook gratis di sini.


0 Comments