Sepenting apa personal branding penulis? Sekarang, kita sudah melewati pertengahan 2026, kenapa masih saja ada penulis yang kesulitan ketika membangun personal branding? Karya yang bagus saja masih belum cukup untuk mendongkrak nama seorang penulis.
Banyak sekali penulis berbakat yang rutin update artikel di blog hingga rajin mengunggah chapter terbaru cerita fiksinya di platform, tetapi audiens atau pembacanya masih sangat minim. Belum lagi hasrat untuk dilirik penerbit yang masih belum tercapai bisa membuat galau.
Apa Itu Personal Branding Penulis?
Dikutip dari yourwriterplatform.com, personal branding juga bisa diartikan di bawah ini.
“Personal branding for authors goes beyond crafting a compelling story in your books; it’s about shaping your identity as a writer in the eyes of your readers and the publishing industry.”
Ini artinya, personal branding untuk penulis itu lebih dari menciptakan cerita yang menakjubkan di buku, tetapi tentang bagaimana seorang penulis membentuk identitas seperti apa di mata pembaca dan industri penerbitan.
Ini adalah soal persona yang kamu izinkan untuk dilihat oleh orang lain. Kamu tidak serta-merta berusaha meniru orang lain.
Personal branding harus berasal dari irisan hidupmu yang benar-benar nyata. Kalau kamu ingin dikenal sebagai penulis, maka rajinlah menghasilkan puisi, artikel, novel, dan karya lainnya bukan hanya menulis status medsos.
Mengapa Penulis Wajib Punya Personal Brand?
Ada banyak hal yang membuat penulis perlu membangun personal branding kuat. Alasannya:
Punya daya tarik industri
Penerbit saat ini baik indie yang menggratiskan penulis untuk menerbitkan karya dan penerbit mayor tentu lebih tertarik untuk mengajak penulis yang punya persona bagus dan audiensnya loyal.
Bukan berarti kalau jumlah followers medsosmu belum mencapai 10 ribu lantas kamu tidak jadi menulis dengan serius,daya tarik ini dapat muncul dari konsistensi dan gayamu bercerita. Kamu ingin dikenal sebagai penulis yang lebih mudah dikenal, bukan?
Terhubung dengan pembaca
Sekarang, pembaca juga sering mencari tahu apakah penulis buku baik di platofrm digital atau cetak memiliki medsos. Dengan kamu rajin mengunggah konten tentang karyamu, namamu akan lebih mudah ditemukan mesin pencari.
Terhubung dengan pembaca adalah sebuah cara untuk menjembatani karyamu dengan hati mereka. Siapa tahu, mereka lebih menyukai karaktermu di medsos dan akan membeli karyamu selanjutnya.
Lebih mudah untuk peluang kerja sama
Founder Wordholic Class, Kak Reffi Dhinar, sering mendapatkan kesempatan menjadi pembicara dan mentor kepenulisan di komunitas literasi, kampus, hingga lembaga kursus. Mereka menemukan karyanya di medsos.
Ini bisa menjadi salah satu peluang baru selain buku. Menulis buku memang bisa menjadi bagian dari branding dan kamu pun akhirnya tidak hanya tergantung dari royalti.
Langkah Memulai Personal Branding Penulis
Apa saja yang bisa kamu lakukan untuk memulai personal branding sebagai penulis?
Menentukan topik
Kamu ingin dikenal sebagai penulis apa? Misalnya, kamu suka menulis fiksi, apa yang paling sering kamu tulis? Untuk awal, tidak perlu terlalu sempit soal genre. Mungkin kamu suka menulis novel romansa, tetapi juga tertarik menulis puisi. Keduanya bisa kamu jadikan topik branding di satu akun yang sama.
Bisa jadi kamu suka menulis artikel blog dan menulis novel? Gabungkan saja keduanya secara bergantian sesuai jadwal unggah konten yang cocok denganmu. Yang penting, kamu tidak mendadak membuat konten olahraga atau traveling lebih banyak dari jadwal menulis.
Bagaimana kalau ingin dikenal dari dua passion berbeda yang berjalan sama kuatnya selain menulis? Nah, di sinilah kamu bisa belajar di Wordholic Bootcamp kelas Kak Reffi Dhinar yang membahas Intuitive Branding untuk penulis.
Merumuskan gaya bercerita
Kamu ingin dikenal sebagai penulis yang gayanya bagaimana? Pilih yang sesuai dengan gaya berceritamu sehari-hari. Contohnya, Dee Lestari yang karya-karyanya selalu puitis, ternyata di Instagram dia sangat humoris dan gaya menulisnya tidak selalu puitis. Inilah karakternya yang nyata.
(Baca Juga: Mengapa Banyak yang Gagal dalam Dunia Menulis?)
Jadi, kamu tidak perlu pusing dengan metode ngonten yang begini-begitu. Tulislah seperti kamu sedang berbicara dengan satu orang yang nyaman buatmu.
Buat blog sederhana
Medsos bisa saja mengalami perubahan algoritma, tetapi blog atau website adalah media yang bisa kita kontrol sendiri. Saat ini AI Search juga menjadi perhatian para pakar SEO dan salah satu sumber konten yang bisa meningkatkan AI Visibility diambil dari blog.
Kamu bisa membagikan karya, unggahan review, sampai proyek tulisan yang sedang kamu kerjakan di blog. Tidak perlu menggunakan website dan blog dengan domain berbayar terlebih dahulu. Tips-tips menulis bisa kamu tulis di halaman blog.
Kesimpulan
Proses personal branding itu tidak bisa instan. Butuh waktu beberapa bulan sampai tahun agar pembaca mengenalimu dan namaku lekat sebagai seorang penulis. Tiga cara sederhana personal branding penulis di atas adalah cara terbaik untuk mulai. Apakah kamu ingin belajar lebih lanjut? Ikuti saja kelas personal branding penulis Wordholic Class bulan depan di sini.


0 Komentar